Senin, 22 Juni 2009

TIPS MEMILIH SEKOLAH SETELAH TAMAT SMP

Oleh : Agus Ria Kumara
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan sekolah yang sesuai dengan orientasi siswa dimasa depan atau dari sudut pandang adalah sebagai berikut :
1. Minat
Faktor utama yang harus pertimbangkan adalah minat yang dmiliki siswa. Hampir dapat dipastikan, tidak ada siswa yang berhasil dalam studinya jika itu bertentangan dengan minatnya. Orang lain, termasuk orang tua, boleh memberikan saran atau masukan apapun, tetapi siswalah yang akan menjalani sekian tahun proses belajar di perguruan tinggi. Dengan memperhatikan minat siswa, diharapkan dapat memberikan semangat atau motivasi internal siswa untuk belajar.
2. Biaya
Kemampuan keuangan sangat menentukan pilihan. Ini adalah faktor terpenting berikutnya yang harus diperhitungkan. Dewasa ini banyak sekolah-sekolah yang mematok harga tinggi untuk siswa-siswa baru sehingga tidak jarang siswa tamatan SMP terpaksa menunda atau bahkan putus sekolah karena keterbatasan biaya. Mungkin dapat dinilai seimbang antara uang yang dibayarkan dengan fasilitas yang diperoleh, walaupun tidak semuanya demikian.
Sebelum melakukan pendaftaran, akan lebih baik menanyakan semua komponen biaya yang harus dibayarkan di sekolah yang bersangkutan. Biasanya sekolah-sekolah swasta memberlakukan sistem pembayaran yang diharapkan tidak memberatkan siswa-siswi. Misalnya uang gedung boleh diangsur sekian kali dan uang administrasi yang lain juga demikian. Semua perlu diperhitungkan.
3. Prospek
Globalisasi tentu saja ini akan sangat menentukan wajah dunia masa datang. Perdagangan bebas, banyaknya perusahaan asing yang masuk ke Indonesia (diantaranya karena aset Negara terpaksa dijual kepada investor asing). Bahasa asing (bukan hanya bahasa Inggris), perdagangan internasional, lingkungan, peralatan berteknologi tinggi, komputer, internet, dan banyak lagi akan menjadi tuntutan yang tidak terhindarkan. Maka dari itu memerlukan kemampuan sumber daya manusia yang memadai pula untuk menjadi salah satu elemen yang diperhitungkan di dalamnya.
Tidak ada prediksi yang benar 100% dalam menentukan jenis jenjang sekolah. Tetapi akan sangat berguna kalau bisa mengantisipasi kondisi di masa depan. Kalau merasa tidak mampu melakukannya sendiri, perlu bertanya kepada orang tua, guru, teman, konsultan, atau siapapun sehingga akan diperoleh beberapa pendapat yang obyektif dan mendukung.
Ketiga faktor di atas penting untuk pertimbangkan masak-masak, sehingga dapat dipilih jenis sekolah yang benar-benar membawa kepada arah yang terbaik bagi pribadi maupun orang lain. Selain itu perlu untuk menyediakan cukup banyak waktu, karena lebih banyak faktor eksternal dan bersifat teknis yang terlibat di sini. Faktor esternal yang terlibat adalah dari sekolah itu sendiri. Dalam memilih sekolah, perlu untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini :
1. Reputasi sekolah
Kalau harus memilih salah satu sekolah tanpa melihat faktor-faktor internal lainnya, pertimbangan utama yang paling mudah digunakan adalah reputasi sekolah tersebut. Reputasi di sini berarti sekolah yang bersangkutan secara umum dikenal sebagai sekolah yang baik, memiliki sarana belajar mengajar yang baik dengan fasilitas yang memadai. Lulusannya pun tidak kesulitan dalam mencari pekerjaan atau memiliki daya saing yang tinggi dalam pekerjaan atau perguruan tinggi.
Dalam kaitannya dengan reputasi, harus kita ingat, reputasi tidak datang dalam sekejap. Reputasi biasanya dibangun dengan kerja keras dan melalui proses yang panjang. Dapat dikatakan bahwa siswa berada on the safe side jika memilih salah satu dari PTS-PTS ini. Akantetapi bukan berarti lalu siswa berhenti di sini saja, masih ada hal-hal lain yang harus dicermati.
2. Status Akreditasi
Status akreditasi ini adalah salah satu faktor yang paling sering digunakan oleh sekolah untuk mengiklankan dirinya. Karena akreditasi menunjukkan mutu/kemampuan sekolah dalam menyelenggarakan suatu program studi. Status ini didapat setelah diadakan penilaian tentang semua unsur yang diperlukan untuk itu, termasuk fasilitas pendidikan,guru tetap dan siswa, kurikulum pendidikan, dan banyak hal lainnya. Masalahnya, tidak semua orang memahami dengan jelas tentang status ini, dan tampaknya banyak sekolah yang menyadari dan memanfaatkan ketidaktahuan tersebut.
Akreditasi perlu untuk diketahui secara sebenarnya dan tidak hanya sekilas begitu saja. Untuk mengetahui status akreditasi ini, perlu ditanyakan secara mendalam mengenai kenyataannya di sekolah bersangkutan. Sebagai contoh, Siswa dapat menanyakan sumberdaya guru, fasilitas pendidikan dan kurikulum.
3. Fasilitas Pendidikan
Gedung megah dan ber-AC saja tidak cukup untuk menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang baik. Bukan (hanya) itu yang dimaksud dengan fasilitas pendidikan. Fasilitas seperti laboratorium (komputer, akuntansi, bahasa, dan lain-lain), bengkel, studio dan perpustakaan sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan siswa. Mereka tidak hanya dituntut untuk menguasai wawasan keilmuannya saja, tetapi juga bagaimana menerapkannya di lapangan. Apalagi untuk jalur pendidikan profesional yang lebih bersifat aplikatif dan menekankan pada ketrampilan.
Perlu untuk dingat bukan hanya tampilan fisik yang diperhatikan. Boleh saja sekolah memasang foto-foto gedungnya yang megah, laboratorium komputernya yang canggih. Tidak ada salahnya untuk mencoba menanyakan, kapan mahasiswa berkesempatan untuk menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut.
Demikianlah beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam memilih sekolah setelah selesai atau tamat SMP. Diharapkan dengan memahami beberapa aspek tersebut diatas, siswa tamatan SMP dapat menentukan sekolah yang tebaik untuk masa depannya.

10 Tips Atasi Gagal Melamar Kerja!

Oleh: Andari
Kebiasaan jam karet sebaiknya ditinggalkan. Banyak perusahaan asing yang tidak mentoleransi keterlambatan calon pelamar. Mencari kerja di masa krisis sungguh tidak gampang. Salah satu yang bisa “disiasati” adalah mencermati persiapan dalam melamar pekerjaan. Jangan sampai hanya karena alpa mempersiapkan persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan, kesempatan kerja yang sudah tipis pun melayang. Untuk mencapai hasil maksimal, perlu kiranya diketahui kesalahan-kesalahan yang sering timbul dalam rangka melamar kerja.
Berikut ada 10 kesalahan umum yang acap kali dilakukan oleh pencari kerja.
• Surat-surat tidak lengkap.
Periksa dahulu kelengkapan dokumen Anda sebelum melangkah ke luar dari rumah. Ketidaklengkapan dokumen merupakan salah satu kesalahan fatal yang berakibat ditolaknya permohonan kerja. Jika Anda termasuk orang yang ceroboh, mintalah bantuan kerabat dekat atau teman untuk memeriksa dokumen yang dibutuhkan.
• Datang terlambat.
Kebiasaan jam karet yang biasanya bersifat menular sebaiknya ditinggalkan. Banyak perusahaan asing yang tidak mentoleransi keterlambatan calon pelamar, khususnya ketika diundang untuk mengikuti serangkaian tes. Untuk mengatasinya, cobalah sehari sebelum tanggal tes melakukan survai. Tambahkan setengah jam dari waktu tempuh yang diperlukan.
• Berpakaian kurang sopan.
Keberhasilan bisa jadi dimulai dari pandangan pertama. Penyeleksi tentu akan mempunyai penilaian tersendiri ketika melihat pelamar kerja pada saat melakukan wawancara. Karena itu hindari pemakaian aksesori yang berbeda dengan adat kebiasaan.
• Mencantumkan referensi terlalu banyak.
Referensi dalam curriculum vitae (CV) atau daftar riwayat hidup memang penting. Tapi perlu diingat, jangan terlalu banyak karena akan menimbulkan kesan bahwa Anda memiliki mental suka menonjolkan diri dan tidak percaya pada kemampuan sendiri.
• Jangan meremehkan hobi.
Bila Anda memiliki hobi unik yang diperkirakan bisa membantu kreativitas kerja, tak ada salahnya dicantumkan dalam CV. Biasanya pimpinan perusahaan lebih menyukai pekerja yang berbakat dalam bidangnya. Bila kegemaran itu merupakan faktor penting dalam posisi yang dilamar, ada baiknya ditulis sesudah perincian pengalaman kerja.
• Salah tulis atau sebut nama.
Pimpinan perusahaan akan sakit hati seandainya namanya ditulis atau diucapkan secara keliru. Hal ini akan mempengaruhi kewibawaan dan reputasinya. Usahakan agar meneliti kembali saat menulis nama orang dalam surat lamaran atau menyapa seseorang
• Melebih-lebihkan keterampilan.
Umumnya penyeleksi akan lebih jeli akan hal ini. Mereka akan terus meneliti bagian-bagian dalam CV atau daftar riwayat hidup yang dianggap terlalu dibuat-buat. Malahan ada yang mempersiapkan tes praktik langsung untuk menguji kebenaran laporan Anda. Oleh sebab itu jangan coba-coba menonjolkan sesuatu yang tidak Anda miliki.
• Bicara berbelit-belit.
Wawancara merupakan saat yang tepat untuk mengungkapkan segala keinginan yang terpatri dalam diri Anda. Pewawancara pasti akan menanyakan semua segi dalam hubungannya dengan isi CV atau daftar riwayat hidup yang telah Anda kirimkan. Dalam menyerap informasi dari Anda, mereka menggunakan logika berpikir secara rasional. Setiap uraian akan dihubungkan dengan keterangan sebelumnya. Karena itu jangan memberi keterangan yang berbelit-belit. Apabila penyeleksi menganggap Anda memberikan keterangan yang tidak jelas, jangan berharap.
• Meminta fasilitas.
Ada kalanya gaji yang ditawarkan kepada Anda lebih rendah dari yang Anda harapkan. Tapi, jangan coba-coba meminta fasilitas tertentu yang tidak disediakan perusahaan seperti antar-jemput, uang transpor, uang makan, dll.
• Lupa memotong rambut.
Rambut gondrong kebanyakan tidak disukai perusahaan, kecuali profesi yang Anda cari berhubungan dengan hal-hal yang tidak membutuhkan kerapian.
Masih banyak kelalaian lain yang ditemui di lapangan. Namun, ada yang masih dalam batas toleransi, ada pula yang jarang dikerjakan oleh kebanyakan orang.
Ada satu hal yang perlu diingat, tidak selamanya kepintaran seseorang akan menghasilkan pekerjaan bagi dirinya. Masyarakat kita masih mendudukkan moralitas di atas intelektualitas. Apa gunanya jika memiliki inteligensia tinggi, tetapi moralnya rendah?

Selamat melamar pekerjaan... (intisari)

TIPS MEMPEROLEH PEKERJAAN

Oleh: ANDARI

Pada dasarnya setiap orang bisa smenemukan sendiri jalan untuk memompa kemauannya. Namun, untuk memudahkan, sebaiknya Anda mencoba berbagai cara. Jika Anda disiplin, target yang Anda tetapkan bisa tercapai. Simaklah 10 langkah berikut:

1. Fokuskan Perhatian Pada Apa Yang Anda Miliki
Fokuskan perhatian Anda pada apa yang Anda punyai dan mulai memikirkan bagaimana memberdayakan apa yang Anda miliki tersebut. Sertakan dengan kalimat-kalimat yang mendorong kemauan Anda seperti, “saya bias! Saya mau! Saya yakin! Saya sanggup! Saya harus……” Pasang target yang membuat Anda betambah semangat.

2. Bangga Saat Melakukannya
Untuk menambah motivasi, bersikaplah bangga pada prestasi yang telah Anda capai. Jangan terpaku pada panjangnya jalan yang belum Anda selesaikan. Kalau perlu, hadiahi diri sendiri bila Anda berhasil melampaui satu tahapan dengan sukses.

3. Buat Target Yang Mudah
Lebih baik membuat sejumlah target kecil yang bias diraih dengan mudah ketimbang target yang berat. Karena biasanya target yang berat membuat hati ciut. Target yang kecil membutuhkan lebih sedikit kemauanh dari pada target yang besar. Keberhasilan akan membuat Anda berani mencoba lagi dan akhirnya berhasil menyelesaikan semuanya dengan sukses.

4. Bila Selama Ini Kemauan Anda Belum Teruji, Sebaiknya Jangan Memilih Target Yang Memberi Perubahan Besar Pada Anda.
Membangun kemauan sama seperti membangun otot. Karena itu Anda perlu melakukan hal-hal biasa yang tak membetuhkan banyak usaha. Seperti selalu mematikan karan bila Anda selesai mandi. Mematikan lampu bila Anda sudah terang. Jangan makan di depan televisi.

5. Jangan Mematok Target Yang Berlebihan
Jangan berharap bisa seperti Ratih Sanggarwati bila postur tubuh Anda tak memungkinkan. Turunkan target Anda agar lebih masuk akal. Tapi juga jangan terlalu rendah karena nanti Anda akan tak mempunyai semangat untuk meraihnya.

6. Pastikan Target Ini Memang Pilihan Anda
Tanyakan pada diri sendri apakah target ini memang Anda inginkan atau hasil paksaan orang lain. Akan sulit untuk maju kalau target iitu tak datang dari diri Anda sendiri.

7. Buat Rencana
Ambil waktu untuk merencanakan bagaimana Anda bisa mencapai target yang telah ditentukan. Cobalah menemukan beberapa cara untuk meraihnya. Dua pilihan lebih baik daripada satu pilihan. Tapi jangan membuat terlalu banyak rencana karena bisa membingungkan.

8. Sampaikan Pada Teman
Kita cenderung menutupi rencana kita kita dari orang lain karena khawatirorang akan mengejek bila target tidak tercapi. Sayangnya usaha melindungi diri sendiri justru membuat kemauan melemah. Dengan menyampaikan target dan rencana kita pada orang lain, efek yang Anda rasakan justru menambah kekuatan si kemauan. Bahkan, terkadang bisa membentuk kelompok yang mengalami masalah sejenis. Ini akan sangat membantu kita dalam mencapai target. Dukungan semangat dan rasa simpati akan membawa keberhasilan bagi usaha kita.

9. Jangan Memaksakan Diri
Bila di tengah proses anda merasakan bosan dan mandek, berhentilah sejenak. Beri kesempatan pada diri anda untuk beristirahat. Tetapi setalh itu jangan lupa untuk segera kembali lagi melakukan hal-hal yang diperlukan. Sekali kita bisa melakukan hal ini, otomatis anda bisa tahan lebih lama. Dan bahkan akhirnya terbebas dari kebosanan.

10. Istirahatlah
Berhenti sesaat bukanlah berarti anda lemah, malas dan tidak disiplin. Malah sebenarnya aaaanda tengah berada dalamj proses memutus kebiasaan yang buruk dan menggantinnkanya dengan yang baru. Jadi jangan terburu berputus asa. Dari pada menuduh diri sendiri malas dan payah, sebaiknya anda melihat sisi positifnya. Yaitu mencari sebab mengapa anda ingin berhenti. Atasi penyebabnya dan lanjutkan usaha anda meraih target yang telah direncanakan!
Nah dengan tips diatas, semoga aanda bukan lagi sekedar kemauan. Melainkan dapat berubah menjadi tindakan nyata yang akan membantu anda mewujudkan sukses.


``````````````````
Sumber: Mulyaningtyas, B Renita, dkk. Bimbingan dan Konseling Untuk Kelas X.2006. Jakarta: Erlangga.

s

Mengantisipasi Kelumpuhan Karir Untuk Yang Sudah Bekerja

OLEH : IMAN NUH HUDI (06104244061)

Kelumpuhan karir (Career Paralyse) sebetulnya hanya sebuah istilah untuk menggambarkan adanya dinamika karir seseorang yang sudah tidak bergerak lagi, entah itu ke atas atau ke samping. Meminjam istilah dari banyak literatur, orang yang terkena ini langkahnya seperti orang yang terpenjara (trapped), putus asa atau tidak punya harapan lagi ketika berbicara soal karir atau profesi. Wilayah kehidupan lain di luar karir juga terkena imbas buruk, tertekan oleh perasaan tidak aman atau tidak layak.
Dalam prakteknya kerap kita jumpai ada sekelompok orang yang dinamika karirnya bergerak membaik tetapi ada juga yang dinamika karirnya sudah mandek atau lumpuh di level tertentu. Tentu saja ini diukur menurut keadaan masing-masing orang. Pesan John Maxwell mengatakan: “Banyak orang yang akhirnya berada di tempat (kerja) yang salah karena mereka mendiami tempat yang tepat terlalu lama.” Tanda-tanda paling umum yang perlu kita waspadai seputar munculnya kelumpuhan itu adalah:
• Benar-benar merasa tidak bahagia dengan pekerjaan atau profesi yang ada
• Depresi berat meski sudah promosi, rotasi, dsb
• Kecenderungan untuk melakukan kritik-diri secara berlebihan
• Motivasi dan semangat berkompetisi yang sangat rendah
• Rasa rendah diri
• Tidak memiliki tujuan yang jelas dan jelas-jelas kita perjuangkan
Menurut laporan studi di bidang karir, hal-hal buruk di atas tidak muncul
seketika dan langsung banyak, melainkan berproses. Kelumpuhan terjadi karena adanya pengabaian yang berproses dari titik tertentu ke titik yang lain. Untuk koreksi-diri, marilah kita lihat proses di bawah ini:
• Dissatisfaction (Ketidakpuasan)
• Demotivation (Kehilangan sumber motivasi)
• Paralyse (Kelumpuhan)

Awalnya, kelumpuhan itu berawal dari ketidakpuasan yang diabaikan. Kita merasa tidak puas dengan keadaan sekarang tetapi ketidakpuasan itu kita biarkan menjadi energi negatif. Atau juga kita menjumpai hal-hal yang membuat kehilangan alasan untuk bersyukur tetapi itu kita biarkan atau tidak kita transfromasikan menjadi energi positif.
Dalam hitungan yang ke sekian juta kali, ketidakpuasan itu muncul dari batin kita dan selalu kita biarkan, maka lahirlah sel-sel baru. Jadilah ia demotivator dalam bentuk: tidak ada gairah berprestasi ke tingkat yang lebih tinggi, kehilangan visi pribadi ke depan, bekerja dengan niat asalkan gaji bulanan lancar, dan seterusnya.
Sampai pada tahap di mana sebagian besar kebiasaan kerja kita didominasi oleh ketidakpuasan dan demotivasi, maka sangat masuk akal jika yang terjadi adalah kelumpuhan. Ibarat kata, biarpun ilmu manajemen kita segunung, tetapi kalau batin ini bermasalah, kemungkinan besar ilmu yang segunung itu tak bisa berbuat banyak. Biarpun jaringan kita banyak, tetapi kalau batin kita bermasalah, maka jaringan yang banyak itu tak bisa berbuat banyak untuk kemajuan karir kita.

Menjadikan sebagai pemacu
Dilihat dari perspektif ketuhanan, munculnya perasaan tidak puas atas keadaan yang ada, itu bukan sesuatu yang tanpa guna. Ketidakpuasan ada gunanya dan kitalah yang diberi pilihan untuk menggunakannya. Jika diikuti perspekstif ini, berarti kita diharapkan dapat menggunakan ketidakpuasan yang muncul sebagai pemacu atau pendorong untuk melakukan hal-hal yang positif.
Karena itu, Dr. Felice Leonardo Buscaglia, American Professor of Education, pernah berpesan: "Perubahan adalah hasil akhir dari pembelajaran. Perubahan itu melibatkan tiga langkah, yaitu: pertama, ketidakpuasan. Kedua keputusan untuk berubah guna memenuhi penolakan atau kebutuhan. Ketiga,kesadaran untuk mengabdikan diri pada proses perkembangan." Seperti kita sadari, memang tidak semua perubahan membawa perbaikian yang langsung buat kita, tetapi semua perbaikan menuntut perubahan.
Lalu, bagaimana mengelola ketidakpuasan itu agar tidak menjadi benih-benih kelumpuhan karir? Barangkali kita bisa melakukan tiga hal berikut ini:
Pertama, menyadari bahwa ketidakpuasan itu bisa kita gunakan sebagai pemacu dan menggunakannya untuk memacu diri. Seperti yang sudah kita bahas, ketidakpuasan itu netral gunanya meski rasanya sama. Karena netral (bisa killer dan bisa builder), maka jangan heran bila ada sebagian orang yang semakin terpacu dan ada lagi yang malah menjadi lumpuh. Ini bukti bahwa perbedaan ini tidak diciptakan dari ketidakpuasan itu, melainkan diciptakan dari bagaimana orang itu menggunakan ketidakpuasannya. Jangan heran bila dalam satu realitas, ada orang yang mendapatkan pencerahan dan ada orang yang mendapatkan kegelapan.
Dengan menjadikan ketidakpuasan itu sebagai pemacu atau pendorong kemajuan maka di sini posisi kita secara mental bukan menjadi korban atas ketidakpuasan tapi sebagai penguasa atas ketidakpuasan itu.
Kedua, realisasikan ke dalam program perbaikan. Seperti kita tahu, untuk meraih kemajuan atau perbaikan tentu tidak cukup dengan hanya memiliki dorongan yang kuat atau keinginan yang kuat. yang dibutuhkan selain itu adalah merealisasikan keinginan yang keras itu ke dalam sebuah program perbaikan yang spesifik dan riil. Kenapa harus spesifik? Biasanya, program perbaikan yang kita inginkan itu jumlahnya amat banyak. Apalagi dalam kondisi ketidakpuasan. Inginnya kita adalah mengubah diri secara total (total improvement) dan sekaligus.
Meski sedemikian rupa keinginan itu, tapi bila kemampuan kita tidak sampai, keinginan itu pasti gagal. Untuk menghindari ini harus ada perbaikan yang spesifik berdasarkan prioritas. Inilah yang disebut learning atau belajar menjadi lebih baik dari praktek.
Ketiga adalah mengelola emosi. Seperti kita alami, perasaan ketidakpuasan itu dinamis sifatnya. Untuk satu hal, untuk satu keadaan dan satu tempat, bisa saja terkadang kita merasa tidak puas, dan terkadang kita puas. Jadi, selain dinamis juga temporer. Karena itu, tidak terlalu tepat juga kalau kita menggunakan setiap ketidakpuasan itu untuk menyusun program perbaikan baru.
Oleh karenanya maka mengelola emosi itu penting, karena akan mengajarkan kapan kita menggunakan ketidakpuasan sebagai pemacu untuk merumuskan program perbaikan baru dan kapan kita menggunakan ketidakpuasan itu sebagai spirit untuk menjalankan program yang sudah kita rumuskan. Kalau kita sedikit-sedikit bongkar pasang rencana, judul akhirnya malah tidak karu-karuan. Tetapi kalau kita tidak merumuskan rencana baru atau memiliki standar prestasi yang baru, ini biasanya malah membikin kita mandek yang berujung pada apa yang disebut dengan kelumpuhan karir itu.
Dengan tiga hal di atas katakanlah misalnya nasib karir kita belum sebagus yang kita inginkan, tetapi yang paling penting di sini adalah batin kita dinamis. Dengan batin yang dinamis ini langkah kita menjadi dinamis dan lebih enteng. Kalau langkah kita menjadi enteng, saya pikir ini berbeda dengan ketika langkah kita yang telah dipenuhi oleh beban ketidakpuasan. Kita bagaikan kendaraan yang kelebihan muatan. Biarkan gas sudah kita tancap sedemikian kuat, tapi kecepatannya masih belum optimal. Seperti pesan seorang atlit, masalahnya bukan di luar diri kita, tetapi di dalam diri kita.

Sumber:
http://www.e-psikologi.com/pengembangan/031006.htm

Persiapan Dalam Memasuki Dunia Kerja Untuk Siswa SMK Kelas XII

OLEH : IMAN NUH HUDI (06104244061)

Setiap orang tentunya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan yang diinginkan. Namun banyak pencari kerja yang tidak mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja yang amat berbeda dengan sewaktu mereka di bangku sekolah atau kuliah. Hal ini mengakibatkan pencari kerja tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan pada saat berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Bahkan, pada saat mereka telah lulus pun juga belum mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Agar sukses memasuki dunia kerja kita harus mempersiapkan terlebih dahulu apa-apa yang mesti mereka persiapkan.
Pekerjaaan apa yang saya inginkan?
Pertanyaan ini yang pertama-tama harus kita pikirkan jauh-jauh hari bahkan ketika kita masih di bangku sekolah. Hal ini amat penting agar kita dapat menata langkah-langkah berikutnya. Cita-cita yang kita sandang itu disesuaikan dengan kemampuan kita, baik daya intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang kita miliki, kemampuan ekonomi, dan kemampuan-kemampuan lain yang mendukung cita-cita tersebut. Atau, jika kemampuan atau persyaratan itu belum kita miliki, kita dapat menginstropeksi diri mampukah kita meraih kemampuan/persyaratan itu? Jika mampu, maka kita dapat melanjutkan cita-cita itu atau menjadikan hal itu sebagai cita-cita.
Tidak mustahil bahwa dalam perjalanannya kita mungkin mengubah cita-cita kita karena sesuatu hal. Jika anda ingin mengubah cita-cita tersebut, maka telitilah dengan seksama apakah cita-cita baru tersebut lebih memungkinkan kita raih? Cukupkah kemampuan kita? Apakah masih punya waktu untuk mempersiapkannya? Perubahan cita-cita juga dapat kita lakukan jika ketika kita hendak meraih cita-cita kita, ternyata terdapat hal utama yang tidak pernah kita pikirkan yang tidak dapat kita penuhi. Sebagai contoh, ada seorang yang bercita-cita ingin menjadi polisi. Ternyata pada saat tes fisik terdapat cacat kecil yang menjadi sebab utama ditolaknya dia masuk polisi. Cacat tersebut tidak dapat diperbaiki dengan cara apapun. Jika kasus ini menimpa anda, maka sebaiknya cita-cita anda diubah.
Dalam menentukan cita-cita, kita juga harus mempertimbangkan pasar kerja mana yang amat dibutuhkan oleh masyarakat. Yang barangkali jarang menjadi cita-cita oleh masyarakat Indonesia adalah misalnya ingin menjadi wiraswastawan/wati. Padahal dunia usaha merupakan dunia yang dapat kita masuki dengan selebar-lebarnya. Negara yang maju adalah Negara dimana sebagian besar penduduknya adalah menjadi pengusaha sukses baik penguasaha kecil, menengah maupun besar. Memang dunia usaha penuh dengan resiko. Kita harus lebih kreatif dan inovatif. Akan tetapi, jika kita berhasil maka penghasilan kita berada jauh lebih tinggi daripada pegawai swasta, apalagi pegawai negeri yang penghasilannya hanya pas-pasan.
Langkah apa yang harus dilakukan?
Jika kita sudah menetapkan apa yang saya inginkan, maka kita dapat merencanakan langkah apa yang sebaiknya saya lakukan. Biasanya pada tahap ini kita memerlukan saran dan pertimbangan para senior kita yang telah berpengalaman bekerja dan sukses meraih cita-cita.
Jika kita ingin menjadi seorang teknisi yang handal misalnya, maka sejak kelas satu SMK harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang teknisi yang baik.Langkah yang dapat ditempuh adalah memilih jurusan teknik mesin. Diharapkan jika kita memilih jurusan teknik mesin kita akan memperoleh ilmu serta bekal-bekal ketrampilan yang baik.Jika kita sudah menentukan, maka kita harus mempersiapkan langkah-langkah apa yang harus kita lakukan agar cita-cita kita menjadi sukses.
Apa yang seharusnya kita persiapkan?
Setelah langkah-langkah untuk mencapai cita-cita itu telah kita tetapkan, maka kita harus mempersiapkan hal-hal tertentu untuk memenuhi persyaratan yang ada. Jika kita setelah lulus ingin jadi pegawai, kita harus mempersiapkan hal-hal yang menjadi persyaratannya. Dari persiapan metal, persiapan untuk menghadapi tes-tes baik tes tertulis, tes psikologi, tes wawancara dan lain sebagainya. Demikian pula jika kita ingin menjadi pegawai swasta. Jika kita ingin menjadi pengusaha sukses, kita juga harus melakukan persiapan-persiapan agar menjadi penguasaha yang sukses. Pada kesempatan ini saya ingin membahas persiapan-persiapan yang harus dilakukan jika kita ingin merintis usaha.

Sumber :
http://uripsantoso.wordpress.com/2008/04/13/kiat-kiat-memasuki-dunia-kerja-2/

Jumat, 19 Juni 2009

Memilih Sekolah yang Tepat Untuk SMP

oleh : Fajar Hari Wijayanto (06104244064)


Mengingat pentingnya peran sekolah bagi perkembangan kepribadian, intelektual, social, dan karier kita, maka kita harus memilih sekolah yang tepat dan sesuai dengan cita-cita kita. Saat ini, memang ada banyak sekolah tersebar di berbagai wilayah, tapi tidak semua sekolah tergolong sekolah yang baik dan menunujang perkembangan diri kita sebagai remaja.
Menurut John W. Santrock, sekolah yang baik bagi remaja adalah sekolah yang memperhatikan dengan serius perbedaan dalam perkembangan individu, menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap kondisi remaja, dan memfokuskan kegiatan pada perkembangan sosial dan emosional, di samping perkembangan intelektual setiap peserta didik. Kriteria tersebut dapat kita lihat dengan memahami sekolah-sekolah lanjutan yang termasuk dalam ruang lingkup SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), baik berdasarkan jenjang, jenis, macam, maupun peringkat prestasinya.
Berdasarkan jenjang pendidikan, SLTP/SMP merupakan jenjang tertinggi pendidikan dasar di samping TK dan SD. Setelah SMP, jenjang berikutnya adalah SLTA dan Perguruan Tinggi yang merupakan pendidikan menengah tinggi. Berdasarkan jenis, SLTA terbagi dua, yaitu SMA dan SMK. Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya satu jenisnya, sementara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terbagi lagi menjadi sembilan kelompok yaitu:
1. Kelompok teknologi dan industri
2. Kelompok bisnis dan manajemen
3. Kelompok seni dan kerajinan
4. Kelompok pariwisata
5. Kelompok kesenian
6. Kelompok olahraga
7. Kelompok agama
8. Kelompok kesehatan dan obat-obatan
9. Kelompok kesejahteraan masyarakat

Menurut Tim MGP dan Kelompok Kerja Pengembangan Kurikulum Sanggar Bimbingandan KOnseling SMP DKI Jakarta, ada tiga jalur yang dapat ditempuh setelah menamatkan SMP, yaitu:
a. Jalur Satu
Setelah lulus SMP, siswa melanjutkan pendidikan ke SMA, lalu ke Perguruan Tinggi. Mengapa? Karena 90% pengetahuan yang diberikan di SMA memang dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Setelah lulus dari Perguruan Tinggi barulah bekerja dan mengembangkan karier. Agar jalur ini benar-benar berhasil maka haruslah dipersiapkan secara sungguh-sungguh segala kondisi seperti nilai hasil belajar (kemmapuan), minat, bakat, fisik serta mental dan sosial ekonomi.
b. Jalur Dua
Setelah lulus SMP, siswa melanjutkan ke SMK pilihannya berdasarkan bakat dan kemampuan. Kurikulum pendidikan kejuruan yang diterapkan di SMK memang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Dari seluruh pengetahuan yang diberikan di SMK, 60% diantaranya disampaikan dalam bentuk praktik dan 40% dalam bentuk teori. Oleh karena itu, setelah tamat SMK seseorang telah memiliki persiapan untuk bekerja sesuai keterampilan yang diperolehnya di sekolah. Setelah tamat SMK, seseorang juga dapat melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi yang sesuai dengna bidang yang ditekuni.
c. Jalur Tiga
Setelah lulus SMP langsung bekerja. Dalam bekerja itulah seseorang belajar sambil mengembangkan karier. Jadi, kalau kita tidak bias melanjutkan sekolah setelah SMP, kita tidak perlu kecewa karena kita bias ikut kursus keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat kita dan atau bekerja sesuai dengan peluang yang ada.

Setelah kita memahami hal-hal tersebut, kita harus mulai merencanakan studi lanjutan yang merupakan bagian tugas dan tanggung jawab setiap siswa yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-harinya. Sekolah tanpa rencana dan tujuan tentunya bagaikan kapal layar tanpa kemudi, sehingga arah dan tujuannya tidak menentu, yang akhirnya dapat terdampar membetur karang di lautan lepas. Demikian pula dengan belajar, melanjutkan pendidikan atau bersekolah. Jika tidak ditunjang oleh suatu rencana dan tujuan yang jelas tentunya akan menyulitkan diri kita sendiri.

ATASI KEJENUHAN DARI RUTINITAS

oleh : Fajar Hari Wijayanto (06104244064)


Rutinitas dan pekerjaan yang monoton seringkali menimbulkan kejenuhan. Dan, itu merupakan hal yang manusiawi, namun meski demikian, kita tak boleh membiarkan keadaan tersebut berlarur-larut. Kejenuhan yang dibiarkan mengendap dapat merusak kualitas kerja serta mengganggu secara psikologis. Berikut kami sampaikan beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi kejenuhan.
a. Perluas Cakrawala
Perkembangan manusia berlangsung secara terus-menerus, tak peduli berapapun usianya. Otak kita dirancang untuk terus berkembang, sehingga butuh terus ditambahi dengan hal-hal baru. Untuk itu sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan, perluaslah pengetahuan. Belajarlah hal-hal baru tanpa henti. Menimba ilmu tidak harus melalui sebuah instansi, Anda dapat belajar hal-hal baru dari lingkungan sekitar. Bisa berupa ketrampilan baru, membaca koran atau buku-buku, atau hal-hal lainnya.
b. Buat Tantangan Baru
Seperti saat kita masih anak-anak, setiap kali mendapat mainan baru, hari-hari akan dilewati bergelut dengan barang baru tersebut. Tapi begitu seminggu berlalu, akan mulai tumbuh kebosanan. Tak jauh beda dengan kita orang dewasa dan pekerjaan yang kita geluti. Bedanya dengan anak-anak, sebagai orang dewasa kita dituntut untuk bertahan dan menyesuaikan diri dengan kebosanan itu. Untuk mengatasi hal ini, Anda bisa mencari tantangan baru di luar pekerjaan rutin. Luangkan waktu luar pekerjaan untuk melakukan hal-hal baru guna menstimulasi minat Anda, seperti misalnya ikut Yoga atau hal-hal lain yang belum Anda kuasai.
c. Membuat Perubahan
Bertemu, melihat dan melakukan hal-hal yang sama dari hari ke hari pastinya membuat kita sangat bosan. Untuk menepis kebosanan tersebut, Anda bisa melakukan perubahan-perubahan pada hal-hal kecil yang Anda jumpai setiap hari. Seperti misalnya, letak meja di kantor, atau mungkin wallpaper di komputer yang Anda gunakan setiap hari, dandanan rambut, atau bahkan rute Anda menuju tempat kerja.
d. Ubah Bahasa Tubuh
Mungkin bahasa tubuh merupakan hal paling sederhana yang jarang kita perhatikan. Namun, sikap tubuh memiliki efek nyata terhadap suasana hati seseorang. Orang yang merasa bosan biasanya mulai duduk merosot, menekuk wajah dan terlihat muram. Ketika kebosanan mulai menyergap, cobalah untuk duduk tegak dan tebarkan senyum, lalu lihat efeknya pada diri Anda.
e. Ciptakan Kenyamanan
Setiap orang, secara alamiah menyukai keadaan yang membuatnya nyaman. Suasana yang nyaman mendorong kita untuk selalu senang. Jika Anda penggemar musik, Anda dapat mendengarkan musik kesayangan sembari bekerja. Atau mungkin Anda bisa mengubah ruang kerja sebagai tempat yang nyaman. Bisa juga menciptakan suasana yang ramah dan penuh canda tawa bersama rekan kerja.
f. Ambil Libur
Minggu demi minggu berlalu, dan setiap hari kita berkutat dengan rutinitas yang itu-itu saja. Untuk meredakan rasa jenuh, manfaatkan setiap hari Sabtu-Minggu untuk benar-benar menikmati liburan. Tak perlu pergi ke tempat pariwisata, Anda bisa juga berlibur dan bersantai bersama keluarga di rumah. Banyak hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membuat rileks, seperti misalnya nonton film atau mungkin sekedar jalan-jalan ke mall bersama keluarga.

Sumber : www.google.com (tentang Menghadapi Mencari Kerja)